Sabtu, 15 Oktober 2011

Suaka Margasatwa Muara Angke, Hutan Mangrove Terakhir Jakarta


Suaka Margasatwa Muara Angke, Hutan Mangrove Terakhir Jakarta

Di Suaka Margastwa Muara Angke
Di Suaka Margastwa Muara Angke
Mungkin ndak banyak yang tahu bahwa Jakarta mempunyai suaka margasatwa yang sekaligus menjadi hutan mangrove dan lahan basah yang menjadi benteng terakhir untuk melawan abrasi.
Walau suaka margasatwa yang terletak berdampingan dengan kawasan pemukiman elit Pantai Indah Kapuk ini merupakan suaka margasatwa terkecil di Indonesia, Suaka Margasatwa Muara Angke memiliki sekitar 30 jenis vegetasi berupa mangrove dan tumbuhan lainnya, 91 jenis burung air dan burung hutan, serta satwa lain seperti monyet dan biawak.
Bersama Tupic, Didit, Aad, Nila, dan Widi, saya berkesempatan mengunjungi suaka margasatwa yang sejak tahun 1939 sudah diresmikan oleh pemerintah Hindia Belanda ini.
Menuju lokasi yang secara administratif terletak di wilayah Kelurahan Kapuk Muara, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara ini cukup mudah dijangkau dengan kendaraan umum.
Dari terminal Blok M, kami naik bus PPD 37 jurusan Blok M-Muara Angke yang cuma berhenti sampai Mega Mall Pluit. Dari depan Mega Mall ini, kami naik angkot merah U11 dan turun di perempatan gerbang masuk Pantai Indah Kapuk.
Kemudian kami berjalan masuk ke arah PIK, melewati gerbang dan setelah menyeberang Sungai Angke berbelok ke kanan menyusuri trotoar di seberang kompleks ruko Mediterania Niaga. Gerbang Suaka Margasatwa Muara Angke terletak sekitar 300 meter dari jembatan ini.
Selain dari Blok M, bisa juga ditempuh dari Terminal Grogol. Dari Terminal Grogol, naik angkot merah B01 yang mempunyai jurusan Grogol-Muara Angke, kemudian turun di perempatan Pantai Indah Kapuk.
Gerbang Suaka Margasatwa Muara Angke
Gerbang Suaka Margasatwa Muara Angke
Di dalam, rupanya rombongan dari Jakarta Green Monster sedang mengadakan acara. Kru TransTV juga nampak sedang melakukan liputan.
Seorang penjaga langsung menyambut kami dengan tatapan yang kurang menyenangkan. Untuk masuk, kami ditanyai mengenai Simaksi (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi) yang harus dibuat sehari sebelumnya di Departemen Kehutanan. Blah! Apa-apaan ini? :-w
Kami kan cuma berniat berwisata, kenapa harus menggunakan surat ijin? Belum lagi si petugas meminta ongkos untuk penggunaan kamera yang saya rasa tidak masuk akal, 100 ribu rupiah! Udah gitu si petugas meminta uang rokok.
Namun setelah melalui proses negosiasi, kami akhirnya diijinkan masuk juga. Kami bahkan tidak mengeluarkan uang sepeser pun untuk “uang rokok”. :p
Saya sebenernya lebih sreg kalo ada semacam retribusi, dengan diberi karcis tanda masuk resmi, sehingga uang yang masuk juga jelas. Kalo pun harus ijin, kenapa harus ke Departemen Kehutanan yang lokasinya sangat jauh itu?
Kalo untuk melakukan kegiatan, boleh lah. La kalo cuma pengen berwisata biasa? Kasihan buat yang datang jauh-jauh dan tidak mengetahui adanya aturan Simaksi ini. Minimal dibuatkan Simaksi sementara di tempat gitu.
Namun untuk menghindari masalah, sebelum berkunjung ke tempat-tempat yang termasuk kawasan konservasi semacam cagar alam, suaka margasatwa, dan taman nasional, sebaiknya kita mengurus Simaksi di Departemen Kehutanan, meski hanya berwisata.
Departemen Kehutanan juga sebaiknya memberikan informasi mengenai syarat-syarat dan tata cara mengurus Simaksi ini. Bahkan ketika saya googling, saya belum nemu informasi yang oke mengenai pengurusan Simaksi ini.
Harus diakui, kami cukup beruntung bisa masuk ke sana tanpa Simaksi. Hehehe. :-"
Selesai urusan di pintu masuk dan Simaksi, kami pun mulai meniti jembatan-jembatan kayu yang menjadi track penjelajahan sepanjang kurang lebih 1 km ini. Di awal, track masih rindang karena banyaknya pohon Pidada (Sonneratia caseolaris) yang menaungi. Bila “beruntung”, kepala bisa kejatuhan buah Pidada dari atas, jadi berwaspadalah.
Buah Pidada menjadi makanan favorit Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) yang merupakan salah satu satwa penghuni suaka margasatwa ini. Pohon Pidada mempunyai ciri akar nafas berbentuk seperti tombak yang menancap ke dalam lumpur dengan air yang memiliki kadar garam rendah.
Buah Pidada (Sonneratia cesolaris)
Buah Pidada (Sonneratia cesolaris)
Buah Pidada berbentuk bulat dengan bagian tengah buah ada semacam tangkai, bila dimakan rasanya masam. Bunga Pidada mekar pada dini hari.
Di kawasan yang masih rimbun ini terdapat pula sebuah menara pengawas yang tampaknya sudah tidak dipakai. Warna coklat karat yang menempel di batang-batang besi mengukuhkan hal ini.
Lepas dari kawasan Pidada, kami memasuki kawasan rawa dengan vegetasi berupa Gelagah (Saccharum spontaneum) dan Eceng Gondok (Eichchornia crassipes). Di kejauhan, terlihat bangunan-bangunan megah pemukiman PIK.
Di tengah track terdapat semacam bangunan untuk beristirahat. Ketika kami tiba, tampak seorang bule yang dari perawakannya saya menduga seorang backpacker, sedang duduk beristirahat.
Dua orang fotografer sedang memotret model wanita yang sedang berpose di atas track kayu. Lokasi ini rupanya juga dipakai untuk pemotretan.
Kami meneruskan perjalanan dan di kejauhan nampak beberapa ekor burung Cangak Abu (Ardea cinerea) sedang terbang dan seekor tampak sedang bertengger yang seolah-olah sedang berdiri di atas permukaan rawa.
Cangak Abu/Grey Heron (Ardea cinerea)
Cangak Abu/Grey Heron (Ardea cinerea)
Di tengah penjelajahan, sayup-sayup saya mendengar suara “koak-koak” di antara rerimbunan semak. Kemungkinan itu suara burung Kowak Malam Kelabu (Nycticorax nycticorax).
Panas mentari semakin menyengat ditambah bau amis membuat keringat bercucuran dan badan terasa lengket. Setelah melewati area yang banyak ditumbuhi Api-api (Avicennia marina) dan Nipah (Nypa fruticans), kami pun beristirahat sejenak di bawah pohon Pidada besar.
Semilir angin begitu sejuk membuat kami betah berlama-lama duduk ngemper sambil menikmati bekal logistik yang kami bawa. Saya mengamati sekitar dan tampak seekor pelatuk Caladi Ulam (Picoides macei) sedang mematuk-matuk batang Pidada.
Caladi Ulam/Fulvous-breasted Woodpecker (Picoides macei)
Caladi Ulam/Fulvous-breasted Woodpecker (Picoides macei)
Ndak jauh dari situ, nampak burung kecil berwarna kuning, yang sepertinya burung madu Sriganti (Nectarinia jugularis) betina.
nectarinia-jugularis-betinaBurung Madu Sriganti/Olive-backed 
Sunbird (Nectarinia jugularis) betina
nectarinia-jugularis-betinaBurung Madu Sriganti/Olive-backed Sunbird (Nectarinia jugularis) betina
Setelah puas ngaso, kami pun beranjak untuk meneruskan perjalanan. Masih didominasi pohon Nipah, kami harus menghalau beberapa daun Nipah yang menutupi jalan hingga kami sampai di ujung jembatan.
Awalnya kami mengira jembatan ini akan mengarah kembali ke gerbang masuk, tapi ternyata tidak. Untuk kembali, kami harus melalui rute yang sama dengan rute kami tadi. Apa boleh buat, kami memang tidak bisa ke mana-mana lagi.
Ketika kami kembali, Widi berteriak karena melihat seekor Biawak (Varanus salvator) kecil sepanjang sekitar 30 cm sedang berenang di atas rawa. Kami pun segera menghampiri dan rupanya si Biawak kecil ini sedang memanjat tiang jembatan kayu. Setelah menungu sebentar, Biawak ini kemudian nongol dan nampak sedang berjemur sebentar.
Biawak (Varanus salvator)
Biawak (Varanus salvator)
Sepanjang perjalanan, saya masih penasaran dengan kehadiran Monyet Ekor Panjang yang menjadi primadona suaka margasatwa ini. Namun sepanjang perjalanan saya tidak melihatnya.
Monyet yang sering dipakai untuk pertunjukan topeng monyet ini mempunyai peranan penting dalam penyebaran biji-bijian tumbuhan hutan di Suaka Margasatwa Muara Angke melalui fecesnya.
Ini bukan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)
Ini bukan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)
Mengunjungi Suaka Margasatwa Muara Angke memang menyenangkan. Namun sayangnya pengelolaannya yang kurang maksimal serta ribetnya jalur birokrasi membuat potensi tempat wisata edukasi ini menjadi kurang terekspos.
Beberapa sampah plastik juga menjadi keprihatinan tersendiri. Lokasinya yang memang berdekatan dengan lokasi pemukiman kumuh nelayan Muara Angke menjadikan lokasi ini kerap menjadi penampungan sampah yang mengalir dari Sungai Angke.
Padahal suaka margasatwa ini menjadi lahan basah dan benteng terakhir Jakarta dari ancaman abrasi. :(
Jembatan kayu di Suaka Margasatwa Muara Angke
Jembatan kayu di Suaka Margasatwa Muara Angke
Terima kasih kepada Pakde Mbilung atas bantuan identifikasi beberapa spesies burung yang saya temui.

Mengingat Kembali Sejarah Hari Ibu


Mengingat Kembali Sejarah Hari Ibu

Mandala Bakti Wanitatama
Mandala Bakti Wanitatama
Hari Ibu mengingatkan saya pada sebuah bangunan yang berkaitan erat dengan peringatan Hari Ibu ini, namun sering kita lupakan.
Mungkin ndak banyak yang tau kalo ternyata Jogja punya peranan yang amat penting atas tercetusnya tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu.
Nah, di Jogja ada sebuah bangunan yang menjadi monumen untuk mengingat peristiwa sejarah lahirnya Hari Ibu.
Bangunan ini mungkin banyak yang ndak menyangka, karena seringnya bangunan ini digunakan untuk acara resepsi pernikahan dan pameran, kalo punya kisah sejarah tersendiri.
Bangunan ini adalah gedung Mandala Bhakti Wanitatama!
Tau ndak kenapa tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu?
Ternyata Hari Ibu ini ada sejarahnya. Pada tahun 1928, bertepatan dengan tahun diadakannya Kongres Pemuda, organisasi-organisasi wanita saat itu ndak mau kalah. Mereka bikin kongres juga di Yogyakarta.
Pada tanggal 22-25 Desember 1928 kongres wanita pertama diadakan, yang kini dikenal dengan nama Kongres Wanita Indonesia (KOWANI).
Saat itu ada 30 organisasi wanita dari 12 kota di Jawa dan Sumatra yang ikut serta. Mereka saat itu berkumpul untuk mempersatukan organisasi-organisasi wanita ke dalam satu wadah demi mencapai kesatuan gerak perjuangan untuk kemajuan wanita bersama dengan pria dalam mewujudkan Indonesia merdeka. Hayah. :))
Penetapan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu ditetapkan pada Kongres Wanita ke-3 yang diadakan di Bandung pada tanggal 22 Desember 1938.
Penetapan tanggal ini bertujuan untuk menjaga semangat kebangkitan wanita Indonesia secara terorganisasi dan bergerak sejajar dengan kaum pria.
Mengingat pentingnya makna Hari Ibu tersebut, Presiden Sukarno mengeluarkan Dekrit No. 316 Tahun 1959 pada tanggal 16 Desember 1959 yang menetapkan Hari Ibu sebagai Hari Nasional namun sayangnya bukan hari libur. ;))
Pada kongres yang diadakan di Bandung pada tahun 1952, Ibu Sri Mangunsarkoro mengusulkan untuk dibangun sebuah monumen untuk memperingati kongres pertama tersebut.
Pada tanggal 20 Mei 1956 dibangunlah Balai Srikandi yang peletakan batu pertamanya dilakukan oleh menteri wanita pertama di Indonesia, Maria Ulfah.
Kemudian seluruh kompleks bangunan pun dibangun dan akhirnya diresmikan oleh Presiden Suharto menjadi kompleks gedung Mandala Bhakti Wanitatama pada tanggal 22 Desember 1983.
Ada beberapa bangunan pada kompleks ini. Museum terletak pada salah satu bagian dari Balai Srikandi. Kemudian di sekelilingnya terdapat bangunan yang sering digunakan untuk acara resepsi dan pameran, yaitu Balai Shinta, Kunthi, dan Utari. Ada pula kompleks wisma penginapan Wisma Sembodro dan Wisma Arimbi serta perpustakaan.
Museum yang terletak di Balai Srikandi menyimpan berbagai koleksi benda-benda yang digunakan saat kongres waktu itu serta diorama.
Nah, setelah tau sejarahnya, maka persepsi kita soal Hari Ibu selama ini mungkin berubah.
Bila kita memperingati Hari Ibu dengan cara memanjakan ibu kita, memberikan hadiah kepada ibu kita, rasanya kok ndak pas sama semangat dan latar belakang sejarahnya, ya? :D
Selamat Hari Ibu, wahai perempuan Indonesia!

Sido Semi, Warung Tempo Doeloe Nan Eksotis


Sido Semi, Warung Tempo Doeloe Nan Eksotis

Warung Sido Semi, Kotagede
Warung Sido Semi, Kotagede
Selain bangunan tua, ternyata di Kotagede ada sebuah warung yang mempunyai suasana tempo doeloe yang khas.
Ndak jauh dari Kompleks Makam Kotagede, sekitar 100 meter ke arah selatan menyusuri Jalan Cantheng, ada sebuah warung yang cukup unik bernama Sido Semi.
Lebih lengkapnya, warung ini bernama “Warung Ys Sido Semi mBok Mul”.
Selain suasana, tentu yang istimewa dari warung ini adalah hidangannya. :D
Bentuk bangunan yang sedikit kurang lazim sebagai warung langsung menyambut ketika kita sampai di depan warung.
Terang saja, bentuk warung ini lebih mirip semacam rumah daripada warung.
Di depan pintu terpasang sebuah papan bertuliskan “Yen Seloso’ Tutup” yang bisa menimbulkan beberapa penafsiran. ;))
Ketika kami ke sana hari Kamis, warung ini buka. Beruntung! :D
Memasuki ruangan, nuansa jadul langsung terasa. Di dalamnya terdapat beberapa perabotan kayu yang dari warnanya nampak sangat tua.
Untuk duduk, kita bisa memilih untuk duduk di atas lincak bambu, kursi kayu, atau dingklik.
Angin sepoi-sepoi menerobos masuk melalui jendela kayu yang diiringi kicauan burung serta gesekan daun bambu memberikan kesan damai.
Sebuah daftar menu yang unik langsung menyita perhatian saya. Ternyata ejaan yang dipakai jadul banget!
Daftar menu warung Sido Semi
Kata “es” pun dituliskan “ys” yang dibaca berbunyi “æs”. “Kacang Ijo” ditulis “Katjang Idjo”, “coklat” pun dituliskan “soklat”, dan lain-lain.
Harganya pun masih menggunakan daftar harga Jaman dulu, 2.5 rupiah, 1 rupiah, dan lain-lain. Konon harga-harga itu adalah harga yang digunakan pada tahun 1950-an!
Pada dinding penyekat antara ruang untuk pengunjung dan dapur, terdapat jendela tua ala bar yang memajang botol-botol.
Tulisan aksara Jawa
Di atas jendela bar ini, tergantung sebuah papan tulis yang terdapat tulisan dalam aksara Jawa yang ditulis menggunakan kapur.
Tulisan ini berbunyi: “Maca Jawa. Seger murah. Jos. ES susu. Bayar dhulu. Nuwun”.
Itu pun setelah saya berkeringat dan bersusah payah mengingat susunan aksara Jawa. #:-S
Di beberapa sudut nampak aksesoris yang cantik.
Ada pajangan dari kendi yang dibelah, pajangan wayang, hingga serbet dan kipas anyaman bambu.
Foto-foto pemilik yang terkesan jadul banget pun juga terpampang manis.
Kami pun mencoba beberapa menu. Karena lapar, kami pun memesan bakso, sebotol es limun, dan es dawet.
Ndak lama, hidangan bakso, limun, dan dawet pun terhidang. Weh, bisa termasuk warung fastfood ini. :D
Yang membuat saya takjub, es limunnya ini bener-bener unik, Sarsa-Parilla, minuman khas Jogja yang kini sangat langka ditemui!
Bakso dan Es Limun Sarsa-Parilla
Sarsa-Parilla sendiri berasa seperti minuman root-beer atau minuman beraroma kola, namun cita rasanya sedikit berbeda. Minuman ini pun oleh orang-orang dikenal dengan nama “coca-cola jawa”.
Tutup botol Sarsa-Parilla yang unik
Tutup botol Sarsa-Parilla ini pun unik. Ndak seperti minuman lain yang menggunakan tutup dari logam, minuman ini menggunakan keramik berlapis karet yang dikunci dengan sistem pengait dari kawat. Bahkan ada semacam kertas penyegel untuk menunjukkan bahwa minuman ini belum dibuka.
Ketika pengait dibuka, terdengar bunyi berdesis yang menunjukkan terlepasnya gas CO2 membawa aroma yang khas. Aroma ini semacam aroma hasil fermentasi.
Ndak sabar, kami pun mencobanya. Menuangkan ke dalam gelas berisi es serut dan.. =p~
Dahsyat! =D>
Baksonya pun walau berasa standar, tapi ada keunikannya.
Mi kuning yang digunakan berbeda dengan mi pada bakso-bakso yang pernah saya icip.
Mi yang digunakan begitu lembut, kenyal, dan licin, sehingga langsung meluncur di lidah dengan mudah dan indah. Slurrpp!!
Bola-bola baksonya pun hebat. Campuran daging dan tepungnya begitu pas membuat bakso ndak terlalu keras atau terlalu empuk.
Es dawetnya pun mengagumkan. Dawet atau cendol yang digunakan potongannya besar-besar, nampak tak beraturan, dan berwarna putih.
Tentu saja, makanan yang terbuat dari tepung beras ini ndak menggunakan zat pewarna.
Penasaran dengan Es Kacang Ijo, saya pun memesan semangkuk.
Es Kacang Ijo
Penampilannya yang biasa-biasa saja ini benar-benar menipu. Rasanya ternyata ndak sesederhana penampilannya!
Ketan putih dan kacang hijau empuk yang ditumbuk kasar berpadu dengan air kunir-asem membangkitkan rasa manis yang light. Bahkan sisa tumbukan kunir pun masih dapat ditemukan di dalam mangkuk.
Saya menduga, rasa manis hanya mengandalkan dari air gula-asem yang terasa samar-samar karena berpadu dengan air kunir. Patoet dipoedjiken.
Setelah kekenyangan, kami pun menikmati suasana warung yang ramai oleh para pengunjung. Suasana akrab sangat terasa oleh pengunjung yang bercengkrama.
Saya yang duduk di lincak pun terbuai angin sepoi-sepoi merasakan kantuk yang nikmat. (:|
belum lagi suara radio yang diputar oleh penjual warung begitu pas. Campur sari! Weh.. \:d/
Ndak terasa kami pun harus mengakhiri nuansa jadul dan kembali ke masa kini.
Saya segera beranjak menuju ke dapur untuk menghitung total kerusakan.
Di dapur, nampak sebuah mesin penyerut es dari besi yang terdapat roda pemutar di sisinya. Untuk menyerut es, balok es batu harus dijepit dengan menggunakan penjepit yang diputar, baru es diserut dengan memutar roda pemutar dengan tangan.
Rupanya bahan-bahan pembuat sudah disiapkan terlebih dahulu dalam mangkuk dan toples-toples, sehingga pesanan bisa cepat diantarkan.
Uniknya lagi, Mbok Mul si penjual menghitung kerusakan menggunakan kapur tulis yang ditorehkan ke atas papan tulis kayu.
Bener-bener eksotis dan bernuansa tempo doeloe!

Langgar Dhuwur Boharen, Kotagede


Langgar Dhuwur Boharen, Kotagede

Langgar Dhuwur tampak belakang
Langgar Dhuwur tampak belakang
Masyarakat Kotagede yang religius tercermin dari kehidupan sehari-hari mereka.
Nafas-nafas religi yang begitu kuat ini bisa dimaklumi karena Kotagede merupakan salah satu basis organisasi Muhammadiyah sejak dulu.
Masyarakat Jawa jaman dulu yang terkenal memegang teguh tradisi dan ajaran Kejawen yang banyak bernuansa klenik, di Kotagede justru banyak ditinggalkan dan banyak memegang nilai-nilai keagamaan.
Selain terlihat dari kehidupan sehari-hari, kereligiusan itu bahkan bisa terlihat dari corak dan fungsi beberapa bangunan tua yang ada di sini.
Banyaknya masjid, mushola, dan langgar yang berada di kawasan ini merupakan perkembangan yang cukup pesat. Konon dulu, masjid dan tempat ibadah seperti ini amat sangat sedikit.
Masjid hanya ada di lingkungan kraton yang tentunya kapasitasnya ndak mencukupi untuk menampung jamaah.
Maka kemunculan masjid, mushola, dan langgar kecil di seputaran kawasan ini tentu menjadi solusi untuk mengatasi ketidakmampuan Masjid Gede menampung jamaah.
Tentunya menelusuri keberadaan masjid, mushola, atau langgar tua di kawasan ini akan sangat menyenangkan.
Salah satu yang kami temukan adalah keberadaan Langgar Dhuwur yang berumur sangat tua dan langka.
Langgar Dhuwur sendiri merupakan bentuk bangunan yang ndak lazim terutama di dalam arsitektur rumah Jawa.
Langgar ini terdiri atas konstruksi kayu yang berada di atas bangunan tembok. Biasanya letak langgar ini berada di pekarangan rumah sebelah depan sisi barat.
Penempatan depan-barat rumah utama ini mempunyai maksud tertentu. Bagian depan dianggap merupakan bagian yang suci dan terhormat. Sedangkan barat tentunya menyesuaikan dengan arah kiblat.
Peletakkan langgar berada di atas (dhuwur dalam Bahasa Jawa) juga mempunyai maksud untuk meninggikan proses ibadah manusia kepada Tuhan Yang Maha Tinggi.
Keberadaan Langgar Dhuwur macam ini dulu cukup banyak. Pemilik Langgar Dhuwur ini biasanya orang-orang dari kalangan tertentu karena tentu saja ndak semua orang mampu membangun langgar ini.
Langgar Dhuwur tampak depan
Biasanya satu langgar ini digunakan oleh masyarakat satu kampung. Yah, digunakan bersama gitu deh.
Letak langgar-langgar ini melingkari Kraton dan Masjid Agung Mataram Kotagede.
Formasi ini konon kemudian diaplikasikan pada formasi masjid-masjid “pathok negara” yang mengelilingi Kraton dan Masjid Agung Yogyakarta.
Namun dari banyaknya langar-langgar ini hanya satu Langgar Dhuwur yang berhasil kami temukan. Itu pun saya dan Didit harus mengerahkan seluruh kemampuan ndoyok kami.
Dengan berbekal secuil informasi, kami pun mulai menyisir dan menjelajah tiap jengkal daerah di Kotagede.
Menyusuri lorong-lorong sempit bak labirin, dengan tetep istiqomah dan kaffah, akhirnya kami menemukan langgar ini di Kampung Boharen, Kotagede.
Terima kasih kepada warga Kotagede nan ramah yang dengan senang hati menawarkan bantuan begitu melihat tampang kami yang kebingungan karena tersesat.
La bayangkan, belum sempet kami bertanya, mereka malah bertanya duluan, “mau ke mana, mas?” atau “cari siapa, mas?”. :top
Kampung Boharen sendiri konon dulu merupakan tempat tinggal salah satu ulama terkenal bernama Kyai Buchari.
Nama Boharen muncul karena lidah orang Jawa yang agak melintir ketika menyebut “Buchari” menjadi “Bohari”. Nah, nama kampung pun berubah menjadi Boharen.
Langgar Dhuwur yang kami temukan berada di dalam perkarangan rumah keluarga Charis Zubair yang juga merupakan kantor sekretariat Pusat Studi Dokumentasi dan Pengembangan Budaya (PUSDOK) Kotagede.
Namun sayang, ketika kami ke sana, rumah tersebut sepi karena menurut tetangganya, Pak Charis sedang tidak di rumah, sehingga kami ndak bisa masuk ke dalam.
Melihat keadaan langgar ini, kami sangat takjub sekaligus prihatin. Kesan “angker” pun sempat terbersit karena mungkin kondisi fisik dari bangunan yang kurang terawat.
Alhamdulillah-nya lagi, langgar ini masih berdiri kokoh dan ndak roboh karena gempa 27 Mei dua tahun lalu.
Semoga saja peninggalan semacam ini masih dapat terawat dengan baik.

Menelusuri Jejak Sejarah Kampung Batik Laweyan


Menelusuri Jejak Sejarah Kampung Batik Laweyan

Salah satu sudut Kampung Laweyan
Salah satu sudut Kampung Laweyan
Menelusuri kembali lorong-lorong di antara tembok-tembok di Laweyan membuat saya seakan terlempar ke masa lalu.
Tembok-tembok tua dengan warna yang memudar itu konon menjadi saksi atas masa kejayaan batik Laweyan.
Ndak hanya batik, dari kampung inil pula lahirlah tokoh pergerakan nasional yang ikut berpartisipasi dalam melawan penjajahan, K.H. Samanhudi melalui perkumpulan Serikat Dagang Islam-nya.
Konon Kampung Laweyan sudah ada sejak abad ke-15 pada masa pemerintahan Kerajaan Pajang.
Daerah Laweyan dulu banyak ditumbuhi pohon kapas dan merupakan sentra industri benang yang kemudian berkembang menjadi sentra industri kain tenun dan bahan pakaian.
Kain-kain hasil tenun dan bahan pakaian ini sering disebut dengan Lawe, sehingga daerah ini kemudian disebut dengan Laweyan.
Industri dan perdagangan di Laweyan semakin berkembang semenjak digunakannya Kali Kabangan sebagai jalur transportasi dari dan menuju Kerajaan Pajang.
Jembatan yang melintas di atas Kali Kabangan
Dari kampung ini pula, hidup seorang tokoh yang konon akan menurunkan raja-raja Mataram Islam.
Tokoh ini adalah Kyai Ageng Henis yang merupakan keturunan Brawijaya V yang kemudian mempunyai keturunan Ki Ageng Pemanahan yang mendirikan Kerajaan Mataram di Kotagede.
Kyai Ageng Henis dulunya beragama Hindu Jawa, namun semenjak singgahnya Sunan Kalijaga di daerah ini ketika hendak menuju Kerajaan Pajang, Kyai Ageng Henis pun kemudian masuk Islam.
Kyai Ageng Henis bersama Sunan Kalijaga kemudian menyebarkan agama Islam di kawasan Laweyan.
Seorang tokoh yang amat disegani saat itu atas pengaruh Kyai Ageng Henis akhirnya juga masuk Islam. Beliau adalah Kyai Ageng Beluk.
Setelah masuk Islam, Kyai Ageng Beluk kemudian mengubah sanggarnya menjadi sebuah masjid untuk menunjang dakwahnya.
Masjid ini lah yang kemudian dikenal sebagai Masjid Laweyan yang dibangun pada tahun 1546 Masehi.
Agama Islam pun menyebar dengan sangat pesat di Laweyan.
Masjid Laweyan
Batik sendiri awalnya diperkenalkan oleh Kyai Ageng Henis yang memang menyukai kesenian.
Selain menyebarkan agama, Kyai Ageng Henis juga mengajarkan masyarakat bagaimana cara membuat batik.
Jadilah Laweyan yang dulunya hanya memproduksi kain tenun berubah menjadi produsen batik.
Karena letaknya yang strategis, Laweyan pun menjadi salah satu kota perdagangan yang maju.
Sebagai kota perdagangan, dibangunlah sebuah bandar (pelabuhan) yang berada di sisi selatan kampung dan di sebelah timur masjid di pinggir Kali Kabangan. Namun peninggalan bandar ini sudah ndak dapat ditemukan lagi.
Ndak heran kalo di Laweyan banyak terdapat saudagar batik yang kaya.
Kehidupan masyarakat di Laweyan ini dapat kita lihat dari bentuk-bentuk bangunan yang ada.
Setiap rumah saudagar biasanya dikelilingi oleh tembok-tembok tinggi. Tujuannya adalah saat itu demi alasan keamanan.
Namun walau setiap rumah dibatasi dengan tembok, antar rumah terdapat pintu yang menghubungkan rumah satu dengan yang lainnya sehingga silaturahmi tetap terjaga.
Konon di beberapa rumah juga terdapat lorong bawah tanah dan bunker yang berfungsi untuk mengungsi bila terjadi serangan.
Lorong di antara tembok-tembok tinggi di Laweyan
Sekilas, bentuk-bentuk bangunan rumah yang dikelilingi oleh tembok ini mengingatkan saya akan Kotagede.
Terang saja, tata kota Kotagede terinspirasi oleh tata kota di Laweyan karena Panembahan Senopati, putra Ki Ageng Pemanahan banyak menghabiskan masa kecilnya di kampung ini.
Bila melacak kembali, sebuah tugu yang ada di pusat kawasan ini dulunya adalah pasar. Namun pasar ini sudah ndak ditemukan lagi.
Panembahan Senopati semasa kecil tinggal di kawasan sebelah utara pasar. Rumah Panembahan Senopati ketika berada di Kotagede pun berada di sebelah utara pasar. Karena inilah ia dijuluki Raden Ngabehi Loring Pasar.
Ketika Kerajaan Mataram pindah ke desa Sala yang kemudian berubah nama menjadi Kraton Surakarta, Laweyan tetap merasa sebagai daerah merdeka yang ndak ingin tunduk kepada kraton.
Ini dikarenakan para saudagar merasa mereka sudah kaya dan mampu hidup tanpa perlu bergabung dengan daerah kekuasaan kraton.
Bisa jadi perlawanan ini juga dikarenakan kraton saat itu begitu dekat pihak Belanda, padahal para saudagar batik yang ada di kawasan ini semuanya adalah saudagar muslim bumiputra.
Sikap ini nampak dari bentuk-bentuk motif batik yang ndak mengikuti pakem-pakem motif seperti motif-motif batik kraton.
Ketika masa penjajahan Belanda, pada tahun 1905 muncullah organisasi Serikat Dagang Islam yang diprakarsai oleh K.H. Samanhudi, salah satu saudagar batik.
Tujuan didirikannya SDI saat itu sebenernya untuk menyatukan para saudagar batik muslim bumiputra yang ada di Laweyan untuk menghadapi Belanda yang pengaruhnya semakin kuat di dalam kraton.
Rumah K.H. Samanhudi masih ada dan dapat kita temukan di kawasan ini.
Atas jasa-jasa dari K.H. Samanhudi, Presiden Soekarno memberikan sebuah rumah untuk K.H. Samanhudi yang sampai sekarang masih digunakan oleh cucu dan keturunan K.H. Samanhudi.
Rumah pemberian Presiden Soekarno kepada K.H. Samanhudi
Bentuk bangunan di kawasan tengah dan utara Laweyan kebanyakan membentuk “jalan mati”, di mana jalan ini terkesan sepi karena berada di antara tembok-tembok rumah yang saling membelakangi.
Sedangkan kawasan di daerah selatan yang dekat dengan Kali Kabangan rumahnya cenderung terbuka dan membentuk “jalan hidup” di mana pintu-pintu bagian depan rumah saling berhadap-hadapan sehingga memungkinkan interaksi.
Rumah-rumah di kawasan tengah dan utara didiami oleh para saudagar sedangkan berada di selatan didiami oleh para pekerja batik.
Dulu banyak sekali jalan-jalan yang melintang dari utara ke selatan menuju ke Kali Kabangan. Jalan ini dinamakan “jalan servis” yang berfungsi untuk membawa kain batik setengah jadi untuk dicuci di Kali Kabangan.
Jaman dulu air di kali ini begitu bersih sehingga masih layak digunakan untuk mencuci. Selain itu, bahan pewarna batik jaman dulu itu terbuat dari bahan alami sehingga ndak membahayakan alam.
Industri batik tulis dan cap di Laweyan sempat kolaps ketika masuknya batik-batik sablon.
Proses pembuatan batik yang lebih cepat dan massal membuat harga batik sablon menjadi murah. Tentu saja ini menghantam industri batik tulis dan cap yang ada di Laweyan.
Belum lagi ekspansi bisnis yang dilakukan oleh para pedagang Cina yang saat itu memang mencoba menguasai area Laweyan.
Selama hampir beberapa generasi pembatik di Laweyan gulung tikar. Bisnis batik di Laweyan yang dilakukan secara turun temurun pun terputus.
Para pemuda Laweyan justru banyak yang keluar dari area dan mencoba peruntungan di luar Laweyan. Bukan begitu, Kang Bal? ;))
Namun pada tahun 2000-an industri batik Laweyan pun kembali bangkit. Apalagi semenjak dibentuknya forum Kampung Batik Laweyan mencoba mengangkat kembali potensi wisata kampung cagar budaya ini.
Jika dulu para pengusaha batik hanya menjadi produsen dan suplier, kini mereka juga membuka showroom-showroom di rumahnya masing-masing.
Kita bisa berkeliling menyusuri lorong-lorong Laweyan dan blusukan masuk ke rumah-rumah saudagar batik untuk melihat dengan lebih dekat proses pembuatan batik.
Mengintip aktivitas pembatik di Laweyan
Waktu yang dianjurkan untuk melihat aktivitas di kampung ini adalah pagi hari. Mulai dari pembuatan, pencelupan, hingga penjemuran kain-kain batik dapat kita lihat hingga tengah hari

Lawang Sewu, Eksotisme yang Terbalut Mistis


Lawang Sewu, Eksotisme yang Terbalut Mistis

Sisi lain Lawang Sewu
Sisi lain Lawang Sewu
Pas jeng-jeng ke Semarang liburan Imlek kemarin, kami mengunjungi kembali Lawang Sewu, salah satu situs wisata populer di Semarang.
Kunjungan saya yang ketiga kali ini ternyata membuat saya berpikir kembali soal eksotisme dan potensi wisata Lawang Sewu yang dari sudut pandang lain mungkin ndak selaras dengan sudut pandang orang kebanyakan.
Lawang Sewu, sejak dulu terkenal dengan keangkeran, cerita horor, kemistisan, tempat seram, dan obyek wisata nyali lainnya.
Namun bila kita bisa menafikkan semua stigma masyarakat tersebut, Lawang Sewu bisa menjadi potensi wisata unggulan Semarang.
Arsitektur Lawang Sewu yang unik dan menarik inilah yang patut ditonjolkan daripada cerita seramnya.
Latar belakang sejarah lah yang seharusnya lebih dikedepankan daripada cerita “di sini pernah dipakai untuk lokasi uji nyali yang memenangkan penghargaan reality show terbaik se-Asia”-nya itu.
Bila Pemkot Semarang memang berniat mengangkat potensi wisata Semarang, tentunya pemkot harus bener-bener serius dengan membangun infrastruktur yang memadai.
Andai saja Lawang Sewu direnovasi kembali, kemudian dialihfungsikan, sebagai museum atau hotel misalnya, tentunya ini akan menarik lebih banyak wisatawan.
Lalu akan muncul keresahan, la nanti kalo dijadikan hotel, apa ndak angker nantinya? Saya cuma ketawa. La hantu itu sebenernya lebih takut pada kita! La kok kita yang takut sama mereka.
Suasana gelap, sepi, membuat suasana tambah wingit dan membuat para setan itu suka gentayangan. Coba kalo ini gedung diramaikan, saya yakin para setan dan hantu itu akan enyah dengan sendirinya.
Wisatawan asing tentu ndak tertarik dengan cerita klenik macam beginian. Yang doyan cerita klenik ini kan ya orang-orang kita sendiri. La kalo yang ditonjolkan cuma cerita klenik, mana mau para wisatawan asing itu datang?
Andai Lawang Sewu dijadikan hotel, tentu hotel ini akan menjadi hotel menarik seperti hotel Majapahit di Surabaya yang pernah menjadi saksi sejarah dengan peristiwa perobekan bendera Belanda menjadi merah-putih itu.
Kalo dijadikan museum, bisa jadi Museum Sejarah Jakarta atau yang sering disebut dengan Museum Fatahillah itu dijamin ndak bakal ada apa-apanya.
Foto-foto Semarang tempo doeloe bisa dipajang di museum ini. Saya sendiri sedih dan prihatin. Mosok gambar-gambar, foto-foto, dan peninggalan sejarah kita (khususnya di Semarang) malah ada di Belanda?
Heritage dan bangunan tua peninggalan Belanda yang banyak bertebaran di Semarang harusnya bisa menjadi ujung tombak wisata Semarang. Tentunya dengan perawatan dan penyajian yang baik.
Saya yang suka melihat heritage dan bentuk bangunan-bangunan tua begitu sedih. Ndak bisa kah kita melestarikan peninggalan kebudayaan tersebut sebagai warisan kepada anak cucu?
Saya jadi teringat slogan, “jas coklat merah: jangan sekali-kali melupakan sejarah”.
Saya membayangkan bila saja Lawang Sewu bener-bener direnovasi. Membayangkan suasana tempo doeloe lengkap dengan para sinyo dan none-none Belandanya tentunya menjadi ndak sulit lagi.
Ah, andai saja pemerintah kita ini peduli.. :-<

Museum Bank Mandiri, Potret Perbankan Masa Lalu

Museum Bank Mandiri, Potret Perbankan Masa Lalu

Lobi Museum Bank Mandiri
Lobi Museum Bank Mandiri
Rasa penasaran saya terhadap bangunan berarsitektur Indische dengan gaya Nieuw-Zakelijk yang terletak di depan Stasiun BEOS (Jakarta Kota) tertuntaskan sudah.
Museum Bank Mandiri, nama gedung itu benar-benar membuat saya puas dan merasakan nuansa berbeda dari museum-museum yang saya kunjungi sebelumnya.
Saya termasuk orang yang suka dengan museum, bangunan tua, heritage, dan sesuatu yang menyimpan cerita sejarah.
Berkunjung ke kawasan Kota Tua Jakarta menjadi aktivitas di akhir pekan bila saya bingung hendak jeng-jeng ke mana. Kawasan itu menjadi semacam surga buat saya, selain karena banyaknya bangunan tua peninggalan Belanda, juga banyak museum!
Saya akhirnya memutuskan mengunjungi Museum Bank Mandiri, yang beralamat di Jl. Lapangan Stasiun No. 1, Jakarta Barat.
Akses menuju tempat ini sangat mudah, hanya dengan mengandalkan busway, saya turun di halte Stasiun Kota, masuk ke terowongan dan mengambil arah Pasar Pagi.
Museum ini buka setiap hari kecuali hari Senin (hari libur bagi seluruh museum) dan hari libur nasional, mulai pukul 9 pagi hingga pukul 4 sore.
Begitu masuk, saya langsung terpesona dengan isi dari museum. Kesan wingit, sepi, berdebu, seketika langsung sirna. Suasana yang adem, bersih, dan terawat adalah kesan yang saya tangkap ketika memasuki museum ini.
Dengan tiket seharga 2 ribu rupiah, bahkan bila kita mempunyai Kartu Mandiri kita bisa gratis masuk, bebas berfoto-foto, membuat saya merasa ini adalah lokasi yang sangat menyenangkan!
Saya jadi teringat dengan museum Ulen Sentalu di Jogja, yang menarik harga mahal bila ingin melihat isi museum itu. Ternyata museum yang bagus dan keren itu ndak harus mahal!
Setelah urusan administrasi selesai, yaitu cuma menulis buku tamu dan menitipkan tas, saya dengan kalap langsung masuk menjelajah isi musem.
Gedung ini memiliki bentuk arsitektur yang sederhana, yang dirancang oleh 3 orang arsitek asal Belanda, yaitu J.J.J. de Bruyn, A.P. Smits, dan C. Van de Linde.
Bangunan yang dulu beralamat di Stasionsplein 1, Binnen Nieuwpoortstraat, ini digunakan sebagai kantor Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM), kongsi dagang Belanda yang menggantikan VOC.
Memasuki lantai satu, saya seperti terlempar ke jaman kolonial. Sinyo dan Noni Belanda terlihat wara-wiri melakukan transaksi. Suara-suara mesin hitung yang klak-klik terdengar dari penjuru ruangan.
Ah, namun rupanya itu semua hanya dalam imajinasi saya ketika melihat rekonstruksi ruang Kasir Tjina.
Ruang Kasir Tjina
Berbagai benda dan tata letak di ruang ini pun hampir sama dengan bila kita masuk ke bank biasa. Yang membedakan hanya usia dan bentuk benda-benda tersebut.
Saya terpana melihat sebuah mesin hitung kuno yang berbentuk seperti mesin ketik bermerk Oliver. Belum selesai kekaguman saya, berbagai benda-benda lainnya hampir membuat saya pingsan karena kagum!
Sebuah buku yang diberi nama “Buku Besar (Grootboek)” rupanya ukurannya benar-benar besar! Buku setebal 1503 lembar dengan ukuran panjang dan lebar hampir setengah meter dengan tebal hampir 20 cm ini digunakan untuk mencatat laporan keuangan NHM yang berisi soal hasil kebun dan komoditi pada tahun 1935-1936!
Turun ke lantai bawah membuat saya semakin takjub. Rupanya ruangan ini digunakan untuk menyimpan barang-barang berharga yang disebut dengan Kluis atau Khasanah (vault / strong room). Ruangan ini berukuran 924 m2 dan terbagi atas 3 ruangan.
Untuk memasuki ruangan ini, kita harus melewati sebuah pintu yang terbuat dari baja berwarna hijau setebal 10 cm dengan berat 5 ton yang langsung dibawa dari Amsterdam. Sistem pengaman pintu ini menggunakan sistem waktu dan kombinasi angka. Sebuah teknologi hebat di masa itu! =D>
Saya membayangkan, bila dulu hendak merampok bank ini, kita ndak perlu membobol pintu, namun dengan membobol temboknya! :))
Dari pintu utama ini, terdapat ruangan yang penuh dengan teralis. Sekilas ruangan ini memang mirip penjara. Rupanya tempat ini digunakan untuk menyimpan berbagai surat berharga, yang disebut dengan Efecteen Kluis.
Ruang kedua atau ruang tengah berisi berbagai jenis Brandkast segede kulkas. Brankas-brankas baja ini digunakan untuk menyimpan uang dan emas (Kast Kluis).
Ruangan ketiga merupakan ruang penyimpan Safe Deposit Box (SDB) yang digunakan untuk menyimpan benda-benda berharga lain semacam perhiasan. Dari ketiga ruang di dalam Kluis ini, hanya ruang penyimpan SDB yang kala itu bisa dimasuki oleh nasabah penyewa SDB.
Ruang Safe Deposit Box
Uniknya, bila diperhatikan, semua brankas dan peti penyimpanan ini tidak ada yang diletakkan mepet ke tembok. Selalu saja ada ruangan di antara lemari dan tembok. Rupanya ini merupakan salah satu sistem keamanan yang diterapkan pada masa itu.
Saya menemukan sebuah lift kuno di bagian belakang. Desain interior lift yang jadul banget, dengan pintu kaca membuat saya penasaran untuk mencoba. Meski kuno, namun mesin lift ini sudah menggunakan mesin modern. ;)
Saya pun mencoba naik ke lantai 2. Di sini terdapat ruang penyimpanan berbagai benda pendukung aktivitas perbankan, mulai dari perkembangan teknologi informasi hingga sistem keamanan bank!
Di ruang perkembangan teknologi informasi, saya melihat komputer-komputer server jaman dulu yang segede gaban. Printer-printer yang lebih mirip mesin fotokopi, hingga media penyimpan data nasabah yang masih berupa pita magnetik! Buset!
Di ruang yang menyimpan benda-benda sistem keamanan bank juga lucu. Saya menemukan berbagai pakaian seragam satpam lengkap dengan tanda kepangkatannya hingga senjata-senjata yang digunakan. Saya melihat shuriken dan paku lempar yang dimasukkan ke dalam kategori senjata satpam selain pentungan!
Dari ruang-ruang penyimpan ini, saya menuju ke bagian depan. Sebuah ruang rapat yang begitu bagus mengingatkan saya pada ruang rapat pada film-film mafia. Pantas saja, beberapa bahan terutama ubin menggunakan bahan mozaik keramik bercampur kaca, yang merupakan material impor dari Vinencia, Italia.
Kaca Patri
Ketika hendak turun ke bawah menggunakan tangga, saya terkesima begitu melihat kaca patri di depan tangga. Inilah bagian yang hampir selalu ada di bangunan-bangunan bercorak Indische. Lokasinya pun, selalu di depan tangga utama.
Corak-corak kaca patri ini menggambarkan 4 musim di Belanda dan seorang nakhoda yang mendarat di Banten tahun 1596, Cornelis de Houtman.
Begitu turun ke lantai 1, saya menuju ke toko suvenir yang berada di sayap selatan. Di ruang sebelahnya lagi, saya menemukan berbagai mesin-mesin ATM jaman dulu.
Kebelet pipis, saya menuju ke toilet. Menarik, di depan pintu masuk toilet, terdapat sebuah papan keterangan yang menyatakan bahwa toilet itu dulu merupakan toilet khusus untuk para Inlander!
Bentuk toilet ini sengaja dipertahankan sesuai dengan aslinya, namun diberi sekat-sekat dari kayu untuk memisahkan toliet pria dan wanita. Pispotnya pun sudah berubah, mungkin karena pispot asli sudah rusak dimakan jaman.
Menjelajah museum yang dikelola oleh Bank Mandiri ini ndak ada habisnya. Saya ketika menulis postingan ini merasa ada beberapa bagian yang belum terkunjungi.
Bila njenengan datang ke sini, cobalah anda berkeliling museum. Menyusuri setiap lorong dan ruangan-ruangannya, kita akan menemukan hal-hal menarik, meski sebenernya ruang itu bukanlah bagian dari museum. ;))
Pokoke ini museum lajak dikoendjoengi, teroetama oentoek rekreasi keloearga..